AU Australia Bukan Tandingan TNI AU?

0
995
F-18 Super Hornet Australia
The Royal Australian Air Force's first Boeing F/A-18F Super Hornet lifts off Lambert International Airport in St Louis, USA, on its maiden flight.Deep caption: Greg Combet, the Minister for Defence Personnel, Materiel and Science, has congratulated the Defence Materiel Organisation (DMO) and Boeing following the first flight of Australia's F/A-18F Super Hornet in the United States.Mr Combet said the Super Hornet took off from Lambert International Airport in St. Louis and follows the recent unveiling of the aircraft on July 8 at the company's Integrated Defense Systems facility."The first of 24 F/A-18Fs will arrive at RAAF base Amberley in March next year.""The remaining Super Hornets, each equipped with the Raytheon-built APG-79 Active Electronically Scanned Array (AESA) radar, will be progressively delivered to the RAAF throughout the remainder 2010 and 2011," he said.Mr Combet said the flight lasted more than an hour and represented an excellent result for the DMO, the Royal Australian Air Force, United States Navy, The Boeing Company and its industry partners General Electric, Northrop Grumman and Raytheon."The Government is pleased to see that the Super Hornet project is progressing well and remains on schedule and on budget," Mr Combet said."The F/A-18F Super Hornets will be based at RAAF Amberley and will aid the transition to a mature Joint Strike Fighter capability while allowing the Air Force to retire the F-111 fleet.""The total program investment is approximately $6 billion over 10 years, which includes acquisition and all support costs including facilities, training and personnel."

DimasBagus.com – Benarkah AU Australia bukan tandingan TNI AU? Padahal jika dilihat dari segi armada pesawat tempur, Australia sudah memiliki jet tempur siluman F-35 buatan Lockheed Martin Amerika. Namun, bagaimana jika ditandingkan dengan F-18 Australia?

FA-18F Super Hornet Australia
FA-18F Super Hornet Australia – www.theaustralian.com.au

Upaya perusahaan penerbangan asal Amerika Serikat (AS), Lockheed Martin jauh-jauh datang ke tanah air untuk merayu pemerintah Indonesia membeli varian terbaru F-16 sirna sudah. Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) menyatakan menolak dan tetap melanjutkan rencana pembelian Sukhoi Su-35 dari Rusia.

Padahal, Lockheed Martin menawarkan serangkaian keunggulan dan sangat menggiurkan. Mulai dari negara pertama yang mengoperasikan F-16 Viper, hingga biaya operasional terjangkau serta penggunaan teknologi terkini.

F-18 Super Hornet Australia
The Royal Australian Air Force’s first Boeing F/A-18F Super Hornet lifts off Lambert International Airport in St Louis, USA, on its maiden flight. – topwar.ru

Meski tawaran menarik tersebut tak membuat TNI AU bergeming dari rencana semula. Korps dengan semboyan ‘Swa Bhuwana Paksa’ tetap menjalankan rencana awal, yakni membeli Sukhoi Su-35 buatan Rusia untuk menggantikan F-5 Tiger II yang mulai termakan usia.

Baca juga:  Sukhoi TNI AU Siap Tempur!

Sikap Indonesia itu menarik perhatian media-media di Rusia. Mereka sampai mengulas alasan Indonesia yang memilih merapat ke Blok Timur dari pada kembali ke pelukan AS dan sekutunya.

Terpilihnya Su-35 sebagai armada pengganti F-5 Tiger II ini langsung menjadi pusat perhatian. Bahkan, Rusia sampai menganalisa sejumlah alasan yang membuat TNI AU memilih merapat ke Rusia dibandingkan kembali melirik jet tempur buatan AS.

F-18 Australia dan Sukhoi Su-30MK2 TNI AU
F-18 Australia dan Sukhoi Su-30MK2 TNI AU

Sejak 2013, lima jet tempur Su-27 dan 11 Su-30 telah memperkuat TNI AU, upaya untuk mendatangkannya dimulai sejak pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Padahal, di saat bersamaan, Indonesia juga masih mengoperasikan 12 pesawat F-16 Fighting Falcon yang dibeli pada 1990-an.

“Indonesia melirik pesawat Rusia untuk memenuhi kebutuhannya. Sebab, 12 F-16A/B dan 16 F-5E/F tak bisa dirawat akibat aksi embargo AS,” tulis majalah Rusia, Russia Beyond The Headlines (RBTH).

Embargo ini dilakukan atas desakan Australia akibat bentrokan di Timor Timur pascajajak pendapat yang akhirnya melepas provinsi tersebut menjadi negara yang merdeka. Pemerintah AS mengamini permintaan tersebut dan menuding Indonesia telah melakukan pelanggaran HAM.

Baca juga:  Candi di Lereng Gunung Lawu Lebih Tua dari Candi Suku Maya?

Untuk mengatasi embargo itu, Indonesia mendekat ke Rusia dan menandatangani kontrak kerja sama sebesar USD 192 juta lewat Rosoboronexport. Rencana pembelian makin dikuatkan lewat penandatangan perjanjian senilai USD 300 juta empat tahun setelahnya.

Di tahun yang sama, hubungan Jakarta dan Washington mulai membaik. Namun, kondisi ini tak membuat Indonesia mengalihkan perhatiannya untuk kembali mendatangkan jet tempur buatan AS.

“Tentunya itu bukan merefleksikan orientasi politik Indonesia. Pembelian itu benar-benar terjadi karena Indonesia tertarik dengan pesawat Sukhoi,” ujar seorang pengamat hubungan internasional Martin Sieff.

Skuadron Sukhoi Su-35
Sukhoi Su-35

Keuntungan lainnya, komponen yang dimiliki Su-35 juga bisa digunakan varian sebelumnya, yakni Su-27 dan Su-30 yang sudah dimiliki Indonesia sebelumnya. Apalagi secara performa, pesawat tersebut dapat bersaing ketat dengan F-22A Raptor buatan AS.

“Dengan kemampuan itu, ditambah kebijakan Rusia untuk menghindari kondisi politik yang mempengaruhi penjualan senjata, membuat Indonesia berpaling ke Rusia sebagai menyuplai senjata.”

Kehadiran Su-35 ke Indonesia ini bisa mengubah peta kekuatan di kawasan Asia pasifik. Bahkan, diyakini mampu menandingi para penerbang F-18 Hornets Australia ketika berhadapan di udara.

“Kedatangan seri terbaru dari Su-27SK dan Su-30MK dari negara terbesar telah mengubah wajah, di mana F/A-18A/B/F sudah kalah kelas dari seluruh parameter performanya telah melebar,” tulis Air Power Australia.

Sumber: [wp_colorbox_media url=”http://www.merdeka.com/peristiwa/rusia-kehadiran-su-35-buat-tni-au-bikin-was-was-australia.html” type=”iframe” hyperlink=”Merdeka”]