Ayah Ibu Sibuk Bekerja, Hati-hati Anak Jadi Sinetron Style

0
20
Anak Nakal
Anak Nakal

Ayah ibu sibuk bekerja dan anak-anak di rumah bersama pengasuh atau pembantu rumah tangga, sepertinya sudah menjadi hal umum yang terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta. Tapi hati-hati, bila Anda menyerahkan pada sembarang orang, bisa-bisa anak jadi sinetron style.

Nutrisi dan stimulasi di awal-awal kehidupan anak merupakan kunci yang berperan sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan otak anak. Keduanya tak bisa dipisahkan dan harus seimbang.

“Kalau orang tua cuma ngasih nutrisi saja tanpa stimulasi, jadinya anak sinetron style, cantik ganteng tapi kalau ditanya bingung. Artinya, fully nutrition tapi otaknya kurang stimulasi,” tutur Dr. dr. Ahmad Suryawan, SpA (K), Ketua Divisi Tumbuh Kembang Anak dan Remaja, Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr. Soetomo/FK Unair Surabaya, dalam acara ‘Kunjungan Media ke R&D Centre Nutricia Singapore’, di Helios Building, Biopolis Street, Singapura, ditulis pada Jumat (13/12/2013).

Baca juga:  Unik, Jalan Khusus Pengguna Ponsel Ada di Tiongkok

dr Wawan menjelaskan, sel otak saling berhubungann melalui jaringan penghubung yang dinamakan sinaps. Jumlah sinaps yang terbentuk menentukan kecepatan proses berpikir si anak. Nah, sinaps-sinaps ini baru akan terbentuk saat anak mendapatkan pengalaman sensoris.

Pengalaman sensoris hanya bisa didapatkan melalui stimulasi atau rangsangan. Bila stimulasi dilakukan secara dini dan berulang-ulang, maka sinaps akan semakin kuat. Namun, bila tidak pernah mendapatkan stimulasi, sinaps akan mati untuk selamanya. ‘Use it, or lose in forever!’

Baca juga:  Gunung Kelud Meletus, Hujan Pasir Hingga Blitar

“Anehnya, ibu-ibu bekerja malah justru senang kalau nelpon pengasuh lalu dijawab anaknya sedang tidur. Kalau anaknya kebanyakan tidur, artinya no experience. No experience no sinaps. Otaknya kurang stimulasi. Jangan malah senang anak kebanyakan tidur,” tegas dr Wawan.

Menurut dr Wawan, stimulasi paling dibutuhkan saat proses perkembangan otak anak sedang cepat-cepatnya, yakni di usia 0-2 tahun dan berlanjut hingga usia 6 tahun. Dimulai dari kemampuan melihat dan mendengar, dilanjutkan dengan kemampuan bahasa dan berbicara, hingga kemampuan kognitif atau kecerdasan.

Baca juga:  7 Tips Aman Belanja Online Agar Terhindar dari Penipuan Jual Beli Online

Synaptogenesis bergantung pada stimulasi di periode kritis (usia 0-2 tahun). Pertama, rangsang kemampuan melihat dan mendengar anak, dengan memberinya senyum dan diajak bicara. Kemampuan melihat dan mendengar akan berlanjut ke kemampuan bicara atau bahasa.

“Anak tidak akan terlambat bicara bila tidak ada gangguan pendengaran. Kemampuan mendengar dan bahasalah yang kemudian menjadikan anak cerdas. Kalau anak kurang stimulasi ya jadinya sinetron style,” tutup dr Wawan.

Sumber : DETIK