Dokter : Bahaya Kerja Lebih dari 8 Jam

0
38
Kerja
Kerja

Meninggalnya Mita Diran, seorang copywriter Indonesia, begitu mengejutkan. Sebab, ia kolaps dan meninggal setelah bekerja 30 jam nonstop. Itu diketahui dari akun Twitter Mita, beberapa saat sebelum meninggal. “30 hours of working and still going strooong,” tulisnya.

Dihubungi VIVAlife, Senin, 16 Desember 2013 Dr Ari F Syam, Staf Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM menuturkan, 30 jam adalah waktu yang sangat panjang bagi tubuh untuk bekerja. Normalnya, manusia bekerja keras hanya selama 8 jam.

“Delapan jam kerja keras, delapan jam kerja ringan, dan delapan jam istirahat,” kata Ari. Pembagian waktu itu penting untuk menjaga daya tahan tubuh, kondisi hormonal, dan keseimbangan. Jika kerja terlalu keras dan istirahat kurang, sistem tubuh akan error.

Baca juga:  Misteri Tjipetir di Eropa: Temuan Getah Perca Buatan Indonesia Abad Ke-19 Yang Bikin Gempar

Sebenarnya, tubuh yang diajak bekerja lebih dari delapan jam per hari akan memberi sinyal kelelahan. Itu sebagai suatu bentuk proteksi diri. “Misalnya sakit kepala, batuk pilek, konsentrasi turun, dan mencret,” Ari menyebutkan. Sinyal itu muncul karena daya tahan tubuh menurun.

“Karena itu orang sering migrain dan vertigo. Otak tidak diajak istirahat. Liver dan organ tubuh lain juga akan kena pengaruh,” kata Ari melanjutkan.

Baca juga:  Helikopter Apache Indonesia Meriahkan HUT TNI

Apalagi jika ada risiko penyakit berat lainnya, seperti jantung atau darah tinggi. Kelelahan bekerja, sama seperti kasus Mita, bisa berujung pada kematian. Karena jantung terus dipacu, pembuluh darah makin tertekan dan darah tinggi makin naik.

Ia menduga, kasus meninggalnya Mita mungkin didukung penyakit lain yang sudah dideritanya lebih dulu. Kelelahan bekerja, hanya sebagai pemicunya saja.

Karena itu, Ari menyarankan tidak bekerja lebih dari delapan jam terus-menerus. Jika masih diselingi dengan istirahat, tidak terlalu masalah. “Kalau full kerja, ya tubuh eror. Pasti terasa kan, kerja 12 jam saja konsentrasi pasti menurun,” ujarnya. Sinyal tubuh itu, jangan diabaikan.

Baca juga:  Bikin Heboh, Ini Profil Atlet Voli Cantik Sabina Altynbekova

Toh, Ari melanjutkan, jika tubuh dipaksa bekerja lebih dari kapasitasnya, hasil yang dicapai tidak akan maksimal. “Apapun kerjanya, kualitas tidak akan maksimal,” tegasnya lagi.

Sumber : VIVA